PEMIKIRAN POLITIK MUHAMMAD ARKOUN

0 comments

Sunday, June 15, 2014

Muhamad Arkoun lahir di Wilayah Berber di Taurit-Mimoun, Kabila, AlJazair pada tanggal 12 Januari tahun 1928 M, Arkoun menyelesaikan pendidikan dasar di desa asalnya, pendidikan menengah dan pendidikan tingginya di tempuh di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utama di Aljazair bagian barat. Dia kemudian pindah ke Universitas Sorbonne dan meraih gelar Phylosopy Doctoral pada tahun 1969 M. Ketika itu, dia sempat bekerja sebagai agrege bahasa dan kesusasteraan Arab di Paris serta mengajar di sebuah SMA (Lycee) di Strasbourg (daerah Perancis sebelah timur laut) dan diminta memberi kuliah di Fakultas Sastra Universitas Strasbourg (1956-1959). Pada tahun 1961, Arkoun diangkat sebagai dosen di Universitas Sorbonne, Paris, sampai tahun 1969. Arkoun sekarang tinggal di Paris dan menjadi seorang Profesor Emeritus dalam Islamic Studies di Universitas Sorbonne, Paris-Perancis. Pada November 1992 di Yogyakarta. Ia sempat memberikan ceramah di UIN Yogyakarta dan Jakarta di depan forum LKiS dan beberapa lembaga lain.
            Dalam konsepnya Arkoun mengklaim bahwa strategi dekonstruksi yang ia tawarkan sebagai sebuah strategi terbaik karena strategi ini akan membongkar dan menggerogoti sumber-sumber Muslim tradisional yang mensucikan “kitab suci”. Strategi ini berawal dari pendapatnya bahwa sejarah al-Quran sehingga bisa menjadi kitab suci dan otentik perlu dilacak kembali. Dan ia mengklaim bahwa strateginya itu merupakan sebuah ijtihad. Dengan Ijtihadnya ini Arkoun menyadari bahwa pendekatannya ini akan menantang segala bentuk penafsiran ulama terdahulu, namun ia justru percaya bahwa pendekatan tersebut akan memberikan akibat yang baik terhadap al-Quran. Dan menurutnya juga, pendekatan ini akan memperkaya sejarah pemikiran dan memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang al-Quran, dengan alasan karena metode ini akan membongkar konsep al-Quran yang selama ini telah ada.

Dan tentang konsep historitas, Arkoun mengatakan “bahwa  pendekatan historisitas, sekalipun berasal dari Barat, namun tidak hanya sesuai untuk warisan budaya Barat saja. Pendekatan tersebut dapat diterapkan pada  semua sejarah umat manusia dan bahkan tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya dengan konteks historis. Arkoun juga menyatakan bahwa Strategi terbaik untuk memahami historisitas keberadaan umat manusia ialah dengan melepaskan pengaruh idiologis. Sehingga menurutnya, metodologi multidisiplin dari ilmu sejarah, sosiologi, antropologis, psikologis, bahasa, semiotik harus digunakan untuk mempelajari sejarah dan budaya Islam. Jika strategi ini digunakan, maka umat Islam bukan saja akan memahami secara lebih jelas masa lalu dan keadaan mereka saat ini untuk kesuksesan mereka di masa yang akan datang, namun juga akan menyumbang kepada ilmu pengetahuan modern.

PEMIKIRAN POLITIK M. IQBAL

0 comments
            Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot India pada tanggal 9 November 1887 dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Beliau terlahir dalam keadaan keluarga yang miskin. Semasa beliau sekolah, beliau mendapatkan beasiswa hingga akhirnya lulus dari perguruan tinggi pada tahun 1897. Setelah pendidikan perguruan tingginya di Sialkot kemudian beliau melanjutkannya di Cambridge-Inggris dan terakhir di Munich-Jerman. Sekembalinya dari Eropa pada tahun 1909 beliau diangkat menjadi guru besar di Lahore dan juga sempat menjadi pengacara. Lambat laun nama beliau semakin terkenal dengan banyaknya karya yang diciptakannya. Seperti contohnya buku-buku beliau yang berjudul Bang-i-dara, Payam-i-Mashriq, Asrar-i-Khudi, dll.
            Meski beliau sebagai seorang pemikir tetap saja gagasan-gagasannya tidak luput dari pengaruh pemikir-pemikir sebelumnya. Muhammad Iqbal memiliki beberapa  pemikiran yang fundamental seperti intuisi, diri, dunia, dan Tuhan. Tetapi pada prakteknya, masyarakat luas mengenalnya sebagai negarawan, filosof, dan sastrawan. Bukti kuat terhadap pernyataan tersebut dapat kita lihat dari isi karya-karya yang telah diciptakannya. Maka dapat kita pahami bahwasanya gagasan-gagasan beliau berkaitan dengan Politik, dan tentang Islam.
            Dari sini penulis akan membahas pemikiran beliau terkait dengan politik dan islam, yang mana menurut beliau tidaklah mungkin umat Islam dapat bersatu dengan penuh persaudaraan dengan warga atau masyarakat yang berkeyakinan berbeda. Sehingga menurutnya kaum muslimin haruslah membentuk negaranya sendiri. Bagi Iqbal seluruh masyarakat yang beragama Islam adalah keluarga yang terdiri atas republik, dan Pakistan yang akan dibentuk baginya adalah termasuk dalam republik tersebut. Kemudian beliau yang juga terkenal akan negarawan, beranggapan bahwa pandangannya terhadap ancaman luar juga sangat tajam. Bagi beliau  budaya Barat merupakan budaya imperialisme, materialism, dan anti spiritual sangat jauh dari norma-norma Islam yang juga dapat mengancam kebudayaan Islam sendiri. Bagi beliau faktor terpenting untuk reformasi dalam diri manusia yaitu jati dirinya sendiri. Dengan paham tersebut beliau berjuang untuk menumbuhkan rasa percaya diri umat Islam dan identitas keislamannya. Muhammad Iqbal beranggapan umat Islam tidak boleh merasa rendah diri terhadap budaya-budaya Barat. Dengan cara tersebut masyarakat Islam dapat melepaskan diri dari pengaruh imperialis Barat. Dan tak luput juga landasan bagi umat Islam sendiri yaitu Al-Qur’an sebagaimana yang terdapat didalamnya yaitu banyak prinsip-prinsip yang harus diyakini oleh masyarakat Islam itu sendiri.

            Menurut penulis pemikiran beliau yang sangat kritis akan budaya Barat dan bagaimana cara mencegah hal tersebut masuk kedalam Islam sangatlah berguna tetapi, tetap tidak dapat di imbangi dengan cepatnya perkembangan budaya Barat itu sendiri yang berusaha memasuki pola pikir masyarakat Islam itu. Jika Muhammad Iqbal berjuang sendiri dalam memerangi budaya Barat tidak diherankan lagi jika beliau masih belum berhasil karena semakin banyaknya penduduk Islam itu sendiri, sedangkan para pengikut beliau juga terbilang kurang sehingga tidak mencakupi untuk memberikan pengaruh pemikiran beliau terhadap umat islam lainnya.

Merkantilisme dalam Bisnis Internasional

0 comments

Sunday, April 13, 2014


Merkantilisme mendukung ekspor sebesar-besarnya dan memperkecil impor.  Penganut merkantilisme menganggap dengan ekspor sebesar-besarnya maka keuntungan juga semakin besar. Hal itu menyebabkan terjadinya monopoli dan monopoli sepenuhnya dari pemerintah. Rakyat terutama yang menjadi koloni pada masa itu merasa tersiksa, karena mereka harus memenuhi permintaan pemerintah untuk melakukan produksi sebanyak-banyaknya, dan nantinya mereka sendiri juga ikut mengkonsumsi.

PEMIKIRAN POLITIK MUHAMMAD IQBAL

0 comments
Muhammad Iqbal dilahirkan di Sialkot-India (suatu kota tua bersejarah di perbatasan Punjab Barat dan Kashmir) pada tanggal 9 November 1877/ 2 Dzulqa'dah 1294 dan wafat pada tanggal 21 April 1938. Ia terlahir dari keluarga miskin, tetapi berkat bantuan beasiswa yang diperlolehnya dari sekolah menengah dan perguruan tinggi, ia mendapatkan pendidikan yang bagus. Setelah pendidikan dasarnya selesai di Sialkot ia masuk Government College (sekolah tinggi pemerintah) Lahore. Beliau menjadi murid kesayangan dari Sir Thomas Arnold.  Beliau lulus  pada tahun 1897 dan memperoleh beasiswa serta dua medali emas karena baiknya bahasa inggris dan arab, dan pada tahun 1909 ia mendapatkan gelar M.A dalam bidang filsafat.

PEMIKIRAN POLITIK IBNU TAIMIYAH

0 comments
Ibnu Taimiyah lahir di kota Harran Mesopotamia Utara pada tanggal 10 Rabiul awal tahun 661 H. beliau memiliki pemikiran terhadap dunia perpolitikan. Beberapa pemikirannya yaitu tentang bentuk negara, keadilan, dan pengambilan keputusan. Ibnu Taimiyah tumbuh di Damaskus dan mengikuti jejak orang tuanya sebagai fuqaha. Pertama kali ia mengajar di Damaskus dan kemudian di Kairo. Potensi dan bakat serta usahanya yang begitu besar menjadikannya sebgai ulama yang berprestasi. Ia menguasai banyak ilmu, kaya pengalaman serta pengarang yang produktif. Beberapa tulisannya adalah: as-Siyasah as-Syar’iyyah, al-Fatawa, al Iman, al-Jami’ Bain an-Naql wa al-Aql, Minhaj as-Sunnah, al-Furqan Bain Auliya Allah swt wa Auliya’ Syaithan, al-Wasithah Bain al-Haq wa al-Khalq, as-Sarim al-Masluk ala Syatim Rasulillah saw, Majmu’ ar-Rasa’il, Nazariyyah al-Aqd, dan sebagainya.